Kehidupan Sosial Serta Politik Kerajaan Ternate
Jumat, Oktober 04, 2019
tidak cuma di Ternate, terdapat beberapa kerajaan lain yang juga memiliki pengaruh, masing-masing kerajaan bersaing buat menjadi kekuatan hegemonik di Maluku. Dalam perkembangannya, Ternate lebih berhasil menjadi kekuatan hegemonik di wilayah tersebut dibandingkan dengan kerajaankerajaan lain, kemajuan perdagangan serta kekuatan militer yang Ternate miliki menjadi alasan kemanangan tersebut. Selanjutnya, Ternate mulai menyelenggarakan ekspansi wilayah guna menambah wilayah kekuasaan serta meningkatkan daerah dagang, atas sikap inilah menimbulkan kebencian kerajaan lainnya. Dan pada akhirnya berlanjut pada peperangan buat menghentikan kekuasaan Ternate.
Untuk menghentikan konlik yang berlarut-larut, Raja Ternate ke-7, yaitu Kolano Cili Aiya (1322-1331) mengundang setiap raja-raja diwilayah Maluku yang lain buat berdamai. Dalam pertemuan tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan buat membentuk suatu persekutuan yang kemudian diketahui selaku Persekutan Moti atau Motir Verbond. Hasil lain dalam pertemuan tersebut yaitu disepakatinya penyeragaman bentuk lembaga kerajaan di Maluku. Pertemuan itu diikuti oleh 4 raja terkuat di Maluku, serta pada akhirnya persekutuan tersebut disebut juga selaku Persekutuan Moloku Kie Raha (Empat Gunung Maluku) serta dengan demikian diharapkan terjadi perdagangan antar kerajaan dengan system yang baik serta bersih sehingga meminimalisasi terjadinya perebutan dominasi.
Mulai munculnya hubungan ekonomi serta perdagangan masyarakat Ternate dengan dunia luar yaitu hubungan dengan para saudagar dikarenakan daerah Ternate serta kepulauan Maluku pada umumnya termasuk penghasil rempah-rempah; cengkeh serta pala yang terbaik kualitasnya di dunia. Kedua hasil bumi tersebut memiliki kualitas ekspor kelas satu, sehingga menarik minat dari negara-negara Eropa serta saudagar-saudagar Arab buat berdatangan ke daerah tersebut, biasanya para saudagar asing yang dating ke Ternate membeli cengkeh serta pala selaku bahan obat-obatan, pengawet, serta campuran rokok. Hubungan yang saling menguntungkan terjadi di Ternate dengan ramainya daerah mereka setelah kedatangan bangsa Asing dari mermacam benua yaitu berbaur dalam bentuk transaksi serta berintegrasi dengan penduduk setempat.
Hubungan yang sudah terjadi baik antara para saudagar asing dengan penduduk setempat tersebut berlanjut dengan hubungan religio politik serta intelektual keagamaan. Hubungan ekonomi-perdagangan yang diteruskan dengan hubungan keagamaan serta politik mencipatakan manifestasi terjadinya proses islamisasi serta konversi agama dari penduduk asing yang beragama Islam kepada pribumi. Sebagai konsekuensi terjadinya proses islamisasi kerajaan yaitu wujudnya intensiikasi kesadaran keislaman para sultan yang kemudian diikuti oleh rakyatnya. Pada tahapan intensiikasi inilah hubungan intelektual-keagamaan menjadi marak. Hal itu diawali oleh apa yang Sultan Zainal Abidin (1500-1522) lakukan, yaitu dengan belajar agama Islam hingga sampai ke daerah Jawa. Dan pada abad ke-16 M setelah kepulangan Zainal Abidin dari “ngangsu kaweruh” (menuntut ilmu) akhirnya berimplikasi banyak pada akselerasi cara-cara penyebaran Islam di kepulauan Maluku.
Raja Ternate yang diketahui awal memeluk Islam yaitu Kolano Marhum (1465-1486) yang berkuasa di Ternate pada abad ke-18 yang kemudian digantikan oleh putranya, Zainal Abidin (1486-1500). Beberapa langkah besar yang diambil Zainal Abidin selama ia memimpin di antaranya adalah: 1) Meninggalkan gelar Kolano serta menggantinya dengan Sultan; 2) Islam diakui selaku agama resmi kerajaan; 3) Memberlakukan Syariat Islam; serta 4) Membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan menyertakan para ulama. Sikap serta arahan dari Zainal Abidin ini kemudian diikuti secara total oleh kerajaan-kerajaan lain di Maluku. tidak cuma itu, Zainal Abidin juga mendirikan madrasah Islam awal di Ternate. Sultan Zainal Abidin yang pernah mendalami ajaran Islam secara langsung kepada Sunan Giri di pulau Jawa itu pernah mendapatkan julukan selaku “Sultan Bualawa” atau “Sultan Cengkih.”
Sumber: Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia oleh Binuko Amarseto
Untuk menghentikan konlik yang berlarut-larut, Raja Ternate ke-7, yaitu Kolano Cili Aiya (1322-1331) mengundang setiap raja-raja diwilayah Maluku yang lain buat berdamai. Dalam pertemuan tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan buat membentuk suatu persekutuan yang kemudian diketahui selaku Persekutan Moti atau Motir Verbond. Hasil lain dalam pertemuan tersebut yaitu disepakatinya penyeragaman bentuk lembaga kerajaan di Maluku. Pertemuan itu diikuti oleh 4 raja terkuat di Maluku, serta pada akhirnya persekutuan tersebut disebut juga selaku Persekutuan Moloku Kie Raha (Empat Gunung Maluku) serta dengan demikian diharapkan terjadi perdagangan antar kerajaan dengan system yang baik serta bersih sehingga meminimalisasi terjadinya perebutan dominasi.
Mulai munculnya hubungan ekonomi serta perdagangan masyarakat Ternate dengan dunia luar yaitu hubungan dengan para saudagar dikarenakan daerah Ternate serta kepulauan Maluku pada umumnya termasuk penghasil rempah-rempah; cengkeh serta pala yang terbaik kualitasnya di dunia. Kedua hasil bumi tersebut memiliki kualitas ekspor kelas satu, sehingga menarik minat dari negara-negara Eropa serta saudagar-saudagar Arab buat berdatangan ke daerah tersebut, biasanya para saudagar asing yang dating ke Ternate membeli cengkeh serta pala selaku bahan obat-obatan, pengawet, serta campuran rokok. Hubungan yang saling menguntungkan terjadi di Ternate dengan ramainya daerah mereka setelah kedatangan bangsa Asing dari mermacam benua yaitu berbaur dalam bentuk transaksi serta berintegrasi dengan penduduk setempat.
Hubungan yang sudah terjadi baik antara para saudagar asing dengan penduduk setempat tersebut berlanjut dengan hubungan religio politik serta intelektual keagamaan. Hubungan ekonomi-perdagangan yang diteruskan dengan hubungan keagamaan serta politik mencipatakan manifestasi terjadinya proses islamisasi serta konversi agama dari penduduk asing yang beragama Islam kepada pribumi. Sebagai konsekuensi terjadinya proses islamisasi kerajaan yaitu wujudnya intensiikasi kesadaran keislaman para sultan yang kemudian diikuti oleh rakyatnya. Pada tahapan intensiikasi inilah hubungan intelektual-keagamaan menjadi marak. Hal itu diawali oleh apa yang Sultan Zainal Abidin (1500-1522) lakukan, yaitu dengan belajar agama Islam hingga sampai ke daerah Jawa. Dan pada abad ke-16 M setelah kepulangan Zainal Abidin dari “ngangsu kaweruh” (menuntut ilmu) akhirnya berimplikasi banyak pada akselerasi cara-cara penyebaran Islam di kepulauan Maluku.
Raja Ternate yang diketahui awal memeluk Islam yaitu Kolano Marhum (1465-1486) yang berkuasa di Ternate pada abad ke-18 yang kemudian digantikan oleh putranya, Zainal Abidin (1486-1500). Beberapa langkah besar yang diambil Zainal Abidin selama ia memimpin di antaranya adalah: 1) Meninggalkan gelar Kolano serta menggantinya dengan Sultan; 2) Islam diakui selaku agama resmi kerajaan; 3) Memberlakukan Syariat Islam; serta 4) Membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan menyertakan para ulama. Sikap serta arahan dari Zainal Abidin ini kemudian diikuti secara total oleh kerajaan-kerajaan lain di Maluku. tidak cuma itu, Zainal Abidin juga mendirikan madrasah Islam awal di Ternate. Sultan Zainal Abidin yang pernah mendalami ajaran Islam secara langsung kepada Sunan Giri di pulau Jawa itu pernah mendapatkan julukan selaku “Sultan Bualawa” atau “Sultan Cengkih.”
Sumber: Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia oleh Binuko Amarseto
