Mengapa Rusia Menginginkan Krimea?
Kamis, Oktober 03, 2019
Ketika Rusia menandatangani Perjanjian Paris pada 1856, menerima kekalahan dalam Perang Krimea - yang Sudah menghancurkan militernya serta menghancurkan ekonominya - Rusia setuju buat membongkar pangkalan angkatan lautnya di kota pelabuhan Sevastopol yang berada di Krimea. Ini yakni keinginan Inggris, Prancis serta sekutu mereka, yang berusaha buat menghilangkan pengaruh Rusia selaku ancaman militer di Laut Hitam.
Tetapi perjanjian tak berlangsung lama.
Rusia mulai membangun kembali Sevastopol selama Perang Perancis-Prusia , pada tahun 1870. Dan sepanjang sejarah, para pemimpin Rusia bakal kembali ke Krimea lagi serta lagi. Setelah pemboman Jerman atas Krimea selama Perang Dunia II, sebagian besar Sevastopol hancur. Pasca PD II Joseph Stalin mendeklarasikan pelabuhan itu selaku "kota pahlawan" serta memerintahkannya buat memulihkan keindahan neoklasiknya yang dulu.
Memang, semenanjung Krimea Sudah menjadi simbol besar bagi para pemimpin Rusia sejak Tsarina Catherine the Great mencaploknya dari Kekaisaran Ottoman pada 1783. Semenanjung strategis tersebut secara resmi bagian dari Ukraina, Sudah memberikan pengaruh militer Rusia tak cuma di Laut Hitam. , tetapi wilayah Mediterania yang jauh lebih besar. Setelah jatuhnya Uni Soviet , perjanjian 1997 dengan Ukraina memungkinkan Rusia buat mempertahankan Armada Laut Hitam di Sevastopol, di bawah kontrak sewa yang Sudah diperpanjang hingga 2042.
Juni 1942: Sebuah kapal perang dari Armada Laut Hitam Rusia menembaki posisi Jerman serta Rumania dekat Sevastopol (Foto oleh Popperfoto / Getty Images)
Tetapi pada tahun 2014, Rusia menyita Krimea dari Ukraina dalam sebuah tindakan ilegal yang melanggar hukum internasional, serta memicu perang yang membuat hampir 2 juta orang kehilangan tempat tinggal serta menghancurkan infrastruktur negara. Presiden Rusia Vladimir Putin membenarkan agresi, dengan menegaskan Kalau Krimea sebagian besar terdiri dari etnis Rusia.
Semenanjung ini mempunyai sejarah yang rumit.
Selama ratusan tahun, Crimea Sudah menjadi rumah Tatar , sekelompok penutur Turki yang hidup di bawah Kekaisaran Ottoman sampai Catherine Agung mencaplok kawasan itu. Pada 1944, Stalin mendeportasi sekitar 200.000 Tatar ke Siberia serta Asia Tengah, menyebut mereka pengkhianat. Pemerintah Uni Soviet lalu membawa etnis Rusia buat mengisi tanah orang Tatar tersebut. Dan setelah kematian Stalin, perdana menteri Soviet Nikita Khrushchev mengalihkan Krimea ke Ukraina dalam sebuah tahap yang dipuji selaku "tindakan mulia atas nama rakyat Rusia."
"Kawan-kawan ... Pengalihan Oblast Krimea (atau wilayah) ke Ukraina terjadi di hari-hari yang luar biasa," kata politisi Soviet Sharof Rashidov. “Ini cuma barangkali di negara kami, di mana tak ada perselisihan etnis serta tak ada perbedaan nasional, di mana kehidupan semua orang Soviet dalam atmosfer kerja konstruktif yang damai atas nama perdamaian serta kebahagiaan seluruh umat manusia ... ”
"Kawan-kawan! ... Hanya di negara kita yakni barangkali Kalau orang-orang hebat seperti orang-orang Rusia dengan murah hati mengalihkan salah satu oblast(daerah) berharga kepada orang lain yang bukan saudaranya tanpa ragu-ragu," kata Otto Wille Kuusinen, pemimpin Partai Komunis lainnya.
Dokumen-dokumen terbaru menunjukkan tahap Khrushchev(memberikan krimea) lebih dimotivasi oleh perhitungan politik daripada niat baik. Ini merancang hal tersebut buat menenangkan kepemimpinan Ukraina serta memantapkan posisinya dalam perebutan kekuasaan yang muncul setelah kematian Stalin pada tahun 1953.
Paramiliter Rusia berdiri berjaga di luar pangkalan militer Ukraina di kota Perevevalne dekat kota Krimea Simferopol pada 6 Maret 2014, selaku bagian dari kebuntuan antara militer Rusia serta pasukan Ukraina di tanjung Crimean Ukraina. (Foto oleh Spencer Platt / Getty Images)
Beberapa berpendapat Kalau pencaplokan Putin atas Krimea yakni upaya buat mengembalikan Rusia ke kejayaan masa pra-Soviet, " selaku salah satu peradaban terbesar di dunia." Meskipun nasionalisme Ukraina tetap kuat, terutama di bagian timur negara itu, para pejabat Ukraina serta analis melaporkan ke Radio Free Europe / Radio Liberty Kalau transformasi demografis yang signifikan tengah berlangsung, dengan gelombang besar etnis Rusia.
Sementara itu, ribuan Tatar Krimea Sudah meninggalkan semenanjung sejak aneksasi pada tahun 2014. Sebenarnya Banyak Tatar diantaranya Sudah kembali ke tanah air leluhur mereka pada tahun 1980 serta 1990-an, lalu sekarang tengah didorong keluar oleh kehadiran Rusia yang kian agresif.
Dari mereka yang tetap tinggal, banyak yang mengalami pelecehan, penangkapan, serta pemenjaraan oleh otoritas Rusia, terutama atas tuduhan ekstremisme serta aktivitas politik.
sumber: History.com
Tetapi perjanjian tak berlangsung lama.
Rusia mulai membangun kembali Sevastopol selama Perang Perancis-Prusia , pada tahun 1870. Dan sepanjang sejarah, para pemimpin Rusia bakal kembali ke Krimea lagi serta lagi. Setelah pemboman Jerman atas Krimea selama Perang Dunia II, sebagian besar Sevastopol hancur. Pasca PD II Joseph Stalin mendeklarasikan pelabuhan itu selaku "kota pahlawan" serta memerintahkannya buat memulihkan keindahan neoklasiknya yang dulu.
Memang, semenanjung Krimea Sudah menjadi simbol besar bagi para pemimpin Rusia sejak Tsarina Catherine the Great mencaploknya dari Kekaisaran Ottoman pada 1783. Semenanjung strategis tersebut secara resmi bagian dari Ukraina, Sudah memberikan pengaruh militer Rusia tak cuma di Laut Hitam. , tetapi wilayah Mediterania yang jauh lebih besar. Setelah jatuhnya Uni Soviet , perjanjian 1997 dengan Ukraina memungkinkan Rusia buat mempertahankan Armada Laut Hitam di Sevastopol, di bawah kontrak sewa yang Sudah diperpanjang hingga 2042.
Juni 1942: Sebuah kapal perang dari Armada Laut Hitam Rusia menembaki posisi Jerman serta Rumania dekat Sevastopol (Foto oleh Popperfoto / Getty Images)
Tetapi pada tahun 2014, Rusia menyita Krimea dari Ukraina dalam sebuah tindakan ilegal yang melanggar hukum internasional, serta memicu perang yang membuat hampir 2 juta orang kehilangan tempat tinggal serta menghancurkan infrastruktur negara. Presiden Rusia Vladimir Putin membenarkan agresi, dengan menegaskan Kalau Krimea sebagian besar terdiri dari etnis Rusia.
Semenanjung ini mempunyai sejarah yang rumit.
Selama ratusan tahun, Crimea Sudah menjadi rumah Tatar , sekelompok penutur Turki yang hidup di bawah Kekaisaran Ottoman sampai Catherine Agung mencaplok kawasan itu. Pada 1944, Stalin mendeportasi sekitar 200.000 Tatar ke Siberia serta Asia Tengah, menyebut mereka pengkhianat. Pemerintah Uni Soviet lalu membawa etnis Rusia buat mengisi tanah orang Tatar tersebut. Dan setelah kematian Stalin, perdana menteri Soviet Nikita Khrushchev mengalihkan Krimea ke Ukraina dalam sebuah tahap yang dipuji selaku "tindakan mulia atas nama rakyat Rusia."
"Kawan-kawan ... Pengalihan Oblast Krimea (atau wilayah) ke Ukraina terjadi di hari-hari yang luar biasa," kata politisi Soviet Sharof Rashidov. “Ini cuma barangkali di negara kami, di mana tak ada perselisihan etnis serta tak ada perbedaan nasional, di mana kehidupan semua orang Soviet dalam atmosfer kerja konstruktif yang damai atas nama perdamaian serta kebahagiaan seluruh umat manusia ... ”
"Kawan-kawan! ... Hanya di negara kita yakni barangkali Kalau orang-orang hebat seperti orang-orang Rusia dengan murah hati mengalihkan salah satu oblast(daerah) berharga kepada orang lain yang bukan saudaranya tanpa ragu-ragu," kata Otto Wille Kuusinen, pemimpin Partai Komunis lainnya.
Dokumen-dokumen terbaru menunjukkan tahap Khrushchev(memberikan krimea) lebih dimotivasi oleh perhitungan politik daripada niat baik. Ini merancang hal tersebut buat menenangkan kepemimpinan Ukraina serta memantapkan posisinya dalam perebutan kekuasaan yang muncul setelah kematian Stalin pada tahun 1953.
Paramiliter Rusia berdiri berjaga di luar pangkalan militer Ukraina di kota Perevevalne dekat kota Krimea Simferopol pada 6 Maret 2014, selaku bagian dari kebuntuan antara militer Rusia serta pasukan Ukraina di tanjung Crimean Ukraina. (Foto oleh Spencer Platt / Getty Images)
Beberapa berpendapat Kalau pencaplokan Putin atas Krimea yakni upaya buat mengembalikan Rusia ke kejayaan masa pra-Soviet, " selaku salah satu peradaban terbesar di dunia." Meskipun nasionalisme Ukraina tetap kuat, terutama di bagian timur negara itu, para pejabat Ukraina serta analis melaporkan ke Radio Free Europe / Radio Liberty Kalau transformasi demografis yang signifikan tengah berlangsung, dengan gelombang besar etnis Rusia.
Sementara itu, ribuan Tatar Krimea Sudah meninggalkan semenanjung sejak aneksasi pada tahun 2014. Sebenarnya Banyak Tatar diantaranya Sudah kembali ke tanah air leluhur mereka pada tahun 1980 serta 1990-an, lalu sekarang tengah didorong keluar oleh kehadiran Rusia yang kian agresif.
Dari mereka yang tetap tinggal, banyak yang mengalami pelecehan, penangkapan, serta pemenjaraan oleh otoritas Rusia, terutama atas tuduhan ekstremisme serta aktivitas politik.
sumber: History.com

