Kerajaan Islam Di Pontianak
Selasa, September 03, 2019
Sejarah Berdirinya Kerajaan Islam di Pontianak
Sejarah berdirinya kerajaan Pontianak tidak bisa dipisahkan dari Syarif Abdurrahman yang memimpin serta menebas hutan diujung delta sungai Kapuas serta sungai Landak. Dalam satu minggu pekerjaan Syarif Abdurrahman serta pasukannya berhasil mendirikan rumah sederhana serta tempat beribadah, yang kemudian tempat itu dinamakan Pontianak. Asal usul penamaan Pontianak atau dalam bahasa daerah yang berarti hantu wanita pengganggu/ Kuntilanak berasal dari cerita kalau pada sore hari Jumat 9 Rajab 1185, 18 oktober 1771 Pangeran Syarif Abdurrahman beserta rombongannya dalam perjalanan menyusuri sungai Kapuas pada malam harinya mendapat gangguan. Menurut kisahnya gangguan tersebut berasal dari hantu yang mendiami Pulau Batu Layang, gangguan yang ditafsirkan selaku hantu jahat, membuat takut anak buah perahu rombongan. Hingga pada keesokan harinya mereka tidak meneruskan perjalanan, sambil memerhatikan situasi sekitarnya Syarif Abdurrahman memerintahkan anak buahnya buat mengusir hantu tersebut dengan menembakkan meriam ke arah sumber suara tersebut. Itulah asal-usul cerita tentang penamaan kota Pontianak.
Pangeran Syarif Abdurrahman setelah berhasil menghilangkan gangguan suara hantu yang ternyata yaitu suara manusia yang mencoba menakuti para pendatang kemudian meneliti daerah disepanjang sungai Landak serta sungai Kapuas, pesisir kedua sungai tersebut ternyata sudah didiami oleh penduduk suku Dayak serta orang-orang Melayu. Kedatangan rombongan Syarif Abdurrahman itu pun menarik perhatian orang yang lalu lintas di daerah itu. Akhirnya pada tanggal 8 bulan sya’ban 1192 H, bertepatan dengan hari Senin dengan dihadiri oleh Raja Muda Riau, raja Mempawah, Landak, Kubu serta Matan, Syarif Abdurrahman akhirnya dinobatkan selaku Sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu AlHabib Al-Kadrie.
Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan pada kesultanan Pontianak pada tahun 1992 H, berdirinya pemerintahan Syarif Abdurrahman di Pontianak ini ditandai dengan berdirinya Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman AlKadrie serta Keratin Kadariah, yang terletak di Kelurahan Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Usaha buat membesarkan kerajaan Pontianak dilakukan dengan bantuan dari Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman, mereka membajak kapal Belanda di dekat Bangka, kapal Inggris serta Prancis di Pelabuhan Passir. Hasil tersebut membuat Abdurrahman menjadi seseorang kaya serta kemudian mengembangkan daerahnya menjadi pusat perdagangan yang makmur, serta mulailah Pontianak berdiri.
Perkembangan Ajaran Islam di Pontianak
Perkembangan Islam di Kalimantan Barat seperti di daerah-daerah lainnya di Nusantara lewat jalur ekonomi serta perdagangan. Islam juga disebarkan oleh pedagang-pedagang muslim serta da’i-da’i yang datang berkelana dengan misi berdagang atau menyebarkan agama Islam.
ultan Syarif Abdurrahman yaitu bangsawan Arab yang selain selaku raja awal di kerajaan Pontianak juga merupakan seorang pendakwah yang menyebarkan agama Islam. Perkembangan Islam di Kalimantan dapat dikatakan masuk lewat Pontianak. Masuknya Islam di Kalimantan ini juga tidak luput dari perjuangan ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie yaitu Habib Husein Al-Qadrie.
Sebelum wafat pada tanggal 3 Zulhijah 1184 H, Habib Husein Al-Qadrie beliau menikahkan putranya Syarif Abdurrahman Al-Qadrie dengan Utin Cendramidi yang taklain yaitu putri dari Raja Mempawah. Ketika beliau berada di Banjar, oleh Sultan Banjar diangkat menjadi pangeran Sayid Abdurrahman Nur Alam yang kemudian menjadi Raja Pontianak dengan gelar Sri Sultan Syarif Abdurrahman bin Habib Husein Al-Qadrie.
Umat Islam di Kalimantan pada masa Syarif Husein bin Ahmad Al-Qadrie masih sedikit. Akan tetapi, setelah berdirinya kerajaan Islam Pontianak agama Islam berubah menjadi agama yang mayoritas hal ini karna kesungguhan dari rajanya Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie buat meneruskan perjuangan dakwah dari ayahnya. Bahkan Sultan Syarief Abdurrahman Al-Qadrie mengundang guru mengaji khusus buat menjadi guru ngaji di lingkungan Keraton Kadariyah Pontianak. Guru ngaji tersebut bernama Djafar. Pada zaman tersebut Dia yaitu salah seorang yang termasyhur di daerah Kampung Kapur.
Nuansa Islam sangat kental Jika kita datang ke Kampung Bansir, di Kampung Kapur, Kampung banjar Serasan serta Kampung Saigon sangat kental dengan pengaruh agama Islam. Hal ini membuktikan kalau Islam pada masa itu sudah menyebar luas ke wilayah Pontianak.
Perkembagan serta Masa Keemasan
Masa pemerintahannya, sultan Sudah mengadakan hubungan luas dengan raja-raja di dalam serta luar Kalimantan Barat. Hubungan kerjasama ini menjadi faktor menarik perdagangan di Pontianak. Kedatangan para pedagang bumi putra seperti Bugis, Tambelan, Banjar, Serasan, Sampit, BangkaBelitung, Kuantan, Kamboja, Saigon Sudah memberi nuansa pada perkembangan Kota Pontianak. Setelah diberi tempat oleh sultan, para pedagang bermukim dengan membentuk perkampungan di tepian Sungai Kapuas—letaknya paralel sebelah timur keraton. Tak mengherankan di Pontianak banyak dijumpai perkampungan pedagang yang sesuai daerah asalnya, kondisi ini juga Sudah membentuk heterogenitas etnis selaku ciri utama komposisi penduduk.
Cepat tumbuhnya Pontianak menjadi kerajaan yang besar yaitu kalau Pontianak dinilai selaku daerah yang strategis, membawa kemajuan dalam pelayaran serta perdagangan. Belum lagi dengan adanya jaminan dari Sultan Pontianak atas pelayaran serta perdagangan di kawasan Sungai Landak serta Sungai Kapuas Kecil, membuat lalu lintas perdagangan di Pontianak kian ramai. Berawal dari keadaan tersebut membuat kerajaan Pontianak tumbuh besar serta kuat baik dari segi ekonomi serta militer selaku implementasi pasukan penjaga keamanan perdagangan.
Dengan kedudukannya yang cukup kuat Abdurrahman berusaha menyelenggarakan ekspansi, dengan target awal yaitu menaklukkan Kerajaan Sanggau. Merasa terancam dengan sikap dari kerajaan Pontianak, kerajaan Sanggau selaku vazal (negeri bawahan) kerajaan Banten meminta bantuan agar dapat dibantu dalam menghadapi serangan kerajaan Pontianak. Akan tetapi, dari kerajaan Banten sudah tidak berdaya lagi buat membantu kerajaan Sanggau, akhirnya memilih buat menyerahkan kekuasaan Sanggau kepada Sultan Pontianak.
Pergolakan serta Runtuhnya Kerajaan
Sebenarnya kelahiran Pontianak ini bersamaan dengan periode bercokolnya imperialisme Barat yang menyebabkan kehidupan kesultanan ini tertekan di bawah eksploitasi kekuasaan imperialisme tersebut. Hal ini berarti kalau hubungan kesultanan Pontianak serta sultan serta para kerabat istana serta rakyatnya di satu pihak, dengan pemerintah kolonialisme Belanda bersama pejabatnya di lain pihak, bersifat tidak seimbang, imperialistis serta eksploitatif yang kentara sekali. Menghadapi kenyataan itu, sultan, sebagian kerabat sultan serta para pembantunya tampaknya menerima perlakuan tidak adil itu tanpa banyak reaksi serta oposisi, sehingga terkesan Kesultanan Pontianak bersekutu dengan pemerintahan penjajahan Belanda. Padahal ketundukan itu merupakan keterpaksaan serta strategi menghindari konlik militer langsung antara kedua pihak yang berakibat kehancuran bagi kesultanan ini, karna tidak mempunyai kelengkapan perang yang memadai.
Campur tangan VOC dalam soal-soal intern kerajaan membawa Pontianak terlibat dalam pertikaian politik serta ekonomi antar kerajaan. Perebutan kekuasaan di wilayah Kalimantan Barat menjadi kompleks dengan adanya konlik perbatasan antara Mempawah serta Sambas. Meskipun konlik itu dapat diselesaikan lewat perantaan Syarif Abdurrahman Al Qadri Sultan Pontianak, tetapi pertentangan antara Panembahan Mempawah serta Abdurrahman meningkat. Faktor ini yang menyebabkan kemuduran dari kerajaan Pontianak.
Sejarah berdirinya kerajaan Pontianak tidak bisa dipisahkan dari Syarif Abdurrahman yang memimpin serta menebas hutan diujung delta sungai Kapuas serta sungai Landak. Dalam satu minggu pekerjaan Syarif Abdurrahman serta pasukannya berhasil mendirikan rumah sederhana serta tempat beribadah, yang kemudian tempat itu dinamakan Pontianak. Asal usul penamaan Pontianak atau dalam bahasa daerah yang berarti hantu wanita pengganggu/ Kuntilanak berasal dari cerita kalau pada sore hari Jumat 9 Rajab 1185, 18 oktober 1771 Pangeran Syarif Abdurrahman beserta rombongannya dalam perjalanan menyusuri sungai Kapuas pada malam harinya mendapat gangguan. Menurut kisahnya gangguan tersebut berasal dari hantu yang mendiami Pulau Batu Layang, gangguan yang ditafsirkan selaku hantu jahat, membuat takut anak buah perahu rombongan. Hingga pada keesokan harinya mereka tidak meneruskan perjalanan, sambil memerhatikan situasi sekitarnya Syarif Abdurrahman memerintahkan anak buahnya buat mengusir hantu tersebut dengan menembakkan meriam ke arah sumber suara tersebut. Itulah asal-usul cerita tentang penamaan kota Pontianak.
Pangeran Syarif Abdurrahman setelah berhasil menghilangkan gangguan suara hantu yang ternyata yaitu suara manusia yang mencoba menakuti para pendatang kemudian meneliti daerah disepanjang sungai Landak serta sungai Kapuas, pesisir kedua sungai tersebut ternyata sudah didiami oleh penduduk suku Dayak serta orang-orang Melayu. Kedatangan rombongan Syarif Abdurrahman itu pun menarik perhatian orang yang lalu lintas di daerah itu. Akhirnya pada tanggal 8 bulan sya’ban 1192 H, bertepatan dengan hari Senin dengan dihadiri oleh Raja Muda Riau, raja Mempawah, Landak, Kubu serta Matan, Syarif Abdurrahman akhirnya dinobatkan selaku Sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu AlHabib Al-Kadrie.
Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan pada kesultanan Pontianak pada tahun 1992 H, berdirinya pemerintahan Syarif Abdurrahman di Pontianak ini ditandai dengan berdirinya Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman AlKadrie serta Keratin Kadariah, yang terletak di Kelurahan Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Usaha buat membesarkan kerajaan Pontianak dilakukan dengan bantuan dari Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman, mereka membajak kapal Belanda di dekat Bangka, kapal Inggris serta Prancis di Pelabuhan Passir. Hasil tersebut membuat Abdurrahman menjadi seseorang kaya serta kemudian mengembangkan daerahnya menjadi pusat perdagangan yang makmur, serta mulailah Pontianak berdiri.
Perkembangan Ajaran Islam di Pontianak
Perkembangan Islam di Kalimantan Barat seperti di daerah-daerah lainnya di Nusantara lewat jalur ekonomi serta perdagangan. Islam juga disebarkan oleh pedagang-pedagang muslim serta da’i-da’i yang datang berkelana dengan misi berdagang atau menyebarkan agama Islam.
ultan Syarif Abdurrahman yaitu bangsawan Arab yang selain selaku raja awal di kerajaan Pontianak juga merupakan seorang pendakwah yang menyebarkan agama Islam. Perkembangan Islam di Kalimantan dapat dikatakan masuk lewat Pontianak. Masuknya Islam di Kalimantan ini juga tidak luput dari perjuangan ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie yaitu Habib Husein Al-Qadrie.
Sebelum wafat pada tanggal 3 Zulhijah 1184 H, Habib Husein Al-Qadrie beliau menikahkan putranya Syarif Abdurrahman Al-Qadrie dengan Utin Cendramidi yang taklain yaitu putri dari Raja Mempawah. Ketika beliau berada di Banjar, oleh Sultan Banjar diangkat menjadi pangeran Sayid Abdurrahman Nur Alam yang kemudian menjadi Raja Pontianak dengan gelar Sri Sultan Syarif Abdurrahman bin Habib Husein Al-Qadrie.
Umat Islam di Kalimantan pada masa Syarif Husein bin Ahmad Al-Qadrie masih sedikit. Akan tetapi, setelah berdirinya kerajaan Islam Pontianak agama Islam berubah menjadi agama yang mayoritas hal ini karna kesungguhan dari rajanya Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie buat meneruskan perjuangan dakwah dari ayahnya. Bahkan Sultan Syarief Abdurrahman Al-Qadrie mengundang guru mengaji khusus buat menjadi guru ngaji di lingkungan Keraton Kadariyah Pontianak. Guru ngaji tersebut bernama Djafar. Pada zaman tersebut Dia yaitu salah seorang yang termasyhur di daerah Kampung Kapur.
Nuansa Islam sangat kental Jika kita datang ke Kampung Bansir, di Kampung Kapur, Kampung banjar Serasan serta Kampung Saigon sangat kental dengan pengaruh agama Islam. Hal ini membuktikan kalau Islam pada masa itu sudah menyebar luas ke wilayah Pontianak.
Perkembagan serta Masa Keemasan
Masa pemerintahannya, sultan Sudah mengadakan hubungan luas dengan raja-raja di dalam serta luar Kalimantan Barat. Hubungan kerjasama ini menjadi faktor menarik perdagangan di Pontianak. Kedatangan para pedagang bumi putra seperti Bugis, Tambelan, Banjar, Serasan, Sampit, BangkaBelitung, Kuantan, Kamboja, Saigon Sudah memberi nuansa pada perkembangan Kota Pontianak. Setelah diberi tempat oleh sultan, para pedagang bermukim dengan membentuk perkampungan di tepian Sungai Kapuas—letaknya paralel sebelah timur keraton. Tak mengherankan di Pontianak banyak dijumpai perkampungan pedagang yang sesuai daerah asalnya, kondisi ini juga Sudah membentuk heterogenitas etnis selaku ciri utama komposisi penduduk.
Cepat tumbuhnya Pontianak menjadi kerajaan yang besar yaitu kalau Pontianak dinilai selaku daerah yang strategis, membawa kemajuan dalam pelayaran serta perdagangan. Belum lagi dengan adanya jaminan dari Sultan Pontianak atas pelayaran serta perdagangan di kawasan Sungai Landak serta Sungai Kapuas Kecil, membuat lalu lintas perdagangan di Pontianak kian ramai. Berawal dari keadaan tersebut membuat kerajaan Pontianak tumbuh besar serta kuat baik dari segi ekonomi serta militer selaku implementasi pasukan penjaga keamanan perdagangan.
Dengan kedudukannya yang cukup kuat Abdurrahman berusaha menyelenggarakan ekspansi, dengan target awal yaitu menaklukkan Kerajaan Sanggau. Merasa terancam dengan sikap dari kerajaan Pontianak, kerajaan Sanggau selaku vazal (negeri bawahan) kerajaan Banten meminta bantuan agar dapat dibantu dalam menghadapi serangan kerajaan Pontianak. Akan tetapi, dari kerajaan Banten sudah tidak berdaya lagi buat membantu kerajaan Sanggau, akhirnya memilih buat menyerahkan kekuasaan Sanggau kepada Sultan Pontianak.
Pergolakan serta Runtuhnya Kerajaan
Sebenarnya kelahiran Pontianak ini bersamaan dengan periode bercokolnya imperialisme Barat yang menyebabkan kehidupan kesultanan ini tertekan di bawah eksploitasi kekuasaan imperialisme tersebut. Hal ini berarti kalau hubungan kesultanan Pontianak serta sultan serta para kerabat istana serta rakyatnya di satu pihak, dengan pemerintah kolonialisme Belanda bersama pejabatnya di lain pihak, bersifat tidak seimbang, imperialistis serta eksploitatif yang kentara sekali. Menghadapi kenyataan itu, sultan, sebagian kerabat sultan serta para pembantunya tampaknya menerima perlakuan tidak adil itu tanpa banyak reaksi serta oposisi, sehingga terkesan Kesultanan Pontianak bersekutu dengan pemerintahan penjajahan Belanda. Padahal ketundukan itu merupakan keterpaksaan serta strategi menghindari konlik militer langsung antara kedua pihak yang berakibat kehancuran bagi kesultanan ini, karna tidak mempunyai kelengkapan perang yang memadai.
Campur tangan VOC dalam soal-soal intern kerajaan membawa Pontianak terlibat dalam pertikaian politik serta ekonomi antar kerajaan. Perebutan kekuasaan di wilayah Kalimantan Barat menjadi kompleks dengan adanya konlik perbatasan antara Mempawah serta Sambas. Meskipun konlik itu dapat diselesaikan lewat perantaan Syarif Abdurrahman Al Qadri Sultan Pontianak, tetapi pertentangan antara Panembahan Mempawah serta Abdurrahman meningkat. Faktor ini yang menyebabkan kemuduran dari kerajaan Pontianak.
